Kalau bicara tentang kejayaan Nusantara di masa lampau, nama Majapahit pasti nongol di urutan teratas. Kerajaan ini sering digambarkan sebagai "negara super" pada masanya, dengan pengaruh yang konon membentang dari Sumatra hingga Papua. Tapi, apa benar begitu? Bagaimana sih awal mula sebuah kerajaan yang didirikan di tengah hutan belantara bisa menjadi begitu besar? Yuk, kita telusuri lebih dalam sejarah kerajaan majapahit, bukan sekadar mitos dan legenda, tapi juga fakta-fakta menarik yang mungkin belum banyak orang tahu.
Lahir dari Kekacauan: Pendirian dan Masa Awal Majapahit
Cerita Majapahit nggak bisa lepas dari kerajaan sebelumnya, Singhasari. Singhasari yang berpusat di Jawa Timur sedang berada di puncak kejayaan di bawah Raja Kertanegara. Namun, pada tahun 1292, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Jayakatwang, penguasa Kediri. Pemberontakan ini berhasil menewaskan Kertanegara dan menghancurkan Singhasari.
Di tengah kekacauan itu, Raden Wijaya, menantu Kertanegara, berhasil melarikan diri. Dengan siasat yang cerdik, dia meminta suaka dan tanah kepada penguasa Kadipaten Madura, Arya Wiraraja. Raden Wijaya kemudian diberi sebidang tanah di daerah Tarik, dekat Sungai Brantas. Konon, saat membuka hutan, salah seorang pengikutnya memakan buah maja yang ternyata sangat pahit. Dari peristiwa "pahitnya buah maja" inilah nama "Majapahit" diambil. Sebuah awal yang sederhana dari sebuah kerajaan yang akan menjadi legenda.
Dengan bantuan pasukan Mongol dari Dinasti Yuan China yang justru datang untuk menyerang Jawa, Raden Wijaya berhasil mengalahkan Jayakatwang. Tapi, Raden Wijaya bukan orang biasa. Setelah musuhnya tumbang, dia justru berbalik menyerang sekutunya sendiri, pasukan Mongol, dan memaksa mereka angkat kaki dari Jawa. Pada tahun 1293, dengan posisi yang sudah kuat, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dan dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.
Stabilisasi dan Konflik Internal: Masa Pemerintahan Raja-Raja Awal
Masa pemerintahan Raden Wijaya diwarnai upaya konsolidasi. Dia menikahi keempat putri Kertanegara untuk memperkuat legitimasinya. Namun, setelah wafatnya pada 1309, Majapahit dilanda konflik perebutan takhta. Jayanegara, putra Raden Wijaya dari selir, naik takhta. Pemerintahannya penuh dengan pemberontakan, seperti pemberontakan Ranggalawe, Lembu Sora, dan yang paling terkenal, pemberontakan Nambi. Uniknya, sang raja justru tewas dibunuh oleh tabibnya sendiri, Tanca. Masa-masa kritis ini akhirnya diselamatkan oleh Gajah Mada, yang masih berpangkat Bhayangkara (penjaga istana), yang berhasil membunuh Tanca.
Puncak Keemasan: Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Sumpah Palapa
Setelah kekosongan kekuasaan, takhta beralih kepada Tribhuwana Tunggadewi, putri Raden Wijaya dari permaisuri. Di sinilah bintang Gajah Mada mulai bersinar terang. Berjasa menumpas pemberontakan di Sadeng, dia diangkat sebagai Mahapatih (Perdana Menteri). Dan di sinilah momen ikonik dalam sejarah kerajaan majapahit terjadi: Sumpah Palapa.
Gajah Mada bersumpah tidak akan menikmati palapa (rempah-rempah/hidangan duniawi) sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Sumpah ini bukan sekadar retorika. Di bawah kepemimpinan Tribhuwana dan didorong oleh ambisi Gajah Mada, Majapahit mulai melebarkan pengaruhnya ke luar Jawa.
Era Hayam Wuruk: Zaman Keemasan yang Sesungguhnya
Puncak absolut kejayaan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389), putra Tribhuwana. Dengan Gajah Mada tetap sebagai Mahapatih, duo ini bagai "dream team" pemerintahan. Ekspansi dan diplomasi berjalan masif. Menurut kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca, wilayah pengaruh Majapahit mencakup Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, bahkan hingga sebagian Filipina dan Timor Leste. Penting dicatat, konsep "wilayah" saat itu berbeda dengan sekarang. Majapahit lebih mengandalkan sistem mandala (lingkaran pengaruh) di mana kerajaan-kerajaan kecil membayar upeti dan mengakui kedaulatan Majapahit, tetapi tetap memiliki otonomi internal yang besar.
Selain ekspansi, aspek lain juga berkembang pesat. Arsitektur, seni sastra (seperti kitab Sutasoma yang memuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika), hukum, dan perdagangan maritim mencapai masa keemasannya. Ibukota Majapahit di Trowulan digambarkan sebagai kota metropolitan yang maju dengan sistem kanal, pasar yang ramai, dan kehidupan yang makmur.
Belah Bambu yang Retak: Faktor-Faktor Kemunduran Majapahit
Setelah kematian Hayam Wuruk pada 1389, dan sebelumnya wafatnya Gajah Mada pada 1364, Majapahit perlahan-lahan mulai kehilangan momentum. Kemunduran ini bukan karena satu sebab, tapi akumulasi dari banyak faktor.
- Konflik Perebutan Takhta (Perang Paregreg): Ini adalah faktor utama. Perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana (suami putri mahkota) dan Bhre Wirabhumi (putra Hayam Wuruk dari selir) meletus menjadi perang saudara berkepanjangan (1404-1406) yang sangat melemahkan sendi-sendi kerajaan secara politik, ekonomi, dan militer.
- Melemahnya Sistem Pemerintahan: Setelah Gajah Mada, tidak ada lagi pemimpin yang kuat dan berwibawa seperti dia. Banyak daerah bawahan mulai melepaskan diri dan tidak lagi mengirim upeti.
- Bangkitnya Kekuatan Islam di Pesisir: Kerajaan-kerajaan Islam seperti Kesultanan Demak, Malaka, dan Samudera Pasai mulai tumbuh menjadi kekuatan maritim dan dagang baru. Mereka menarik pedagang-pedagang Muslim dari dalam dan luar Nusantara, menggeser jaringan perdagangan yang dikuasai Majapahit.
- Bencana Alam dan Pergeseran Ekonomi: Beberapa catatan menyebutkan bencana alam seperti letusan gunung berapi dan wabah penyakit turut memperparah keadaan. Selain itu, pusat ekonomi bergeser dari pedalaman Jawa ke kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa.
Runtuhnya Pusat dan Warisan yang Tersisa
Majapahit bertahan dalam bentuk yang semakin kecil dan lemah selama abad ke-15. Serangan-serangan dari Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah akhirnya memberikan pukulan telak. Pada sekitar awal abad ke-16, pusat kerajaan di Trowulan akhirnya ditinggalkan. Para bangsawan, intelektual, dan seniman Majapahit kemudian bermigrasi ke timur (ke Bali) dan ke pegunungan Tengger, membawa serta budaya, tradisi, dan sastra Hindu-Buddha.
Majapahit dalam Imajinasi Indonesia Modern: Fakta vs. Mitos
Narasi tentang Majapahit sebagai "negara kesatuan" pertama Indonesia adalah konstruksi modern yang dipopulerkan pada masa kebangkitan nasional dan awal kemerdekaan. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Yamin melihat Majapahit sebagai inspirasi untuk persatuan Indonesia. Ini adalah mitos yang fungsional—sebuah cerita yang dibangun untuk memperkuat identitas bangsa.
Dari sisi fakta sejarah, para sejarawan sepakat bahwa pengaruh Majapahit memang luas, tetapi bukan dalam bentuk administrasi terpusat seperti negara modern. Kekuasaannya lebih bersifat hegemonik, berupa jaringan diplomasi, perdagangan, dan kewibawaan budaya. Klaim bahwa wilayahnya mencakup seluruh Indonesia modern juga perlu dilihat secara kritis, mengingat sumber utama seperti Negarakertagama mungkin mengandung unsur pujian dan pengagungan terhadap raja.
Warisan Nyata yang Masih Bisa Disaksikan
Terlepas dari debat fakta dan mitos, warisan Majapahit nyata adanya dan masih hidup hingga kini:
- Semboyan Bhinneka Tunggal Ika: Kalimat "Berbeda-beda tetapi tetap satu" dari kitab Sutasoma diadopsi menjadi semboyan resmi Republik Indonesia.
- Kebudayaan di Bali: Bali adalah "museum hidup" Majapahit. Bahasa Kawi, sastra, upacara, arsitektur, dan seni pertunjukan di Bali banyak yang merupakan kelanjutan langsung dari tradisi Majapahit.
- Arsitektur dan Artefak: Situs Trowulan di Mojokerto menyisakan candi (seperti Candi Tikus, Gapura Bajang Ratu), kolam, dan fondasi bangunan yang menunjukkan kemajuan peradabannya. Berbagai arca dan prasasti tersebar di museum nasional dan daerah.
- Kisah-Kisah Epik: Cerita-cerita tentang Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Ratu Tribhuwana terus menginspirasi dalam bentuk novel, film, dan serial drama.
Belajar dari Kisah Sang Nusantara
Menyimak sejarah kerajaan majapahit itu seperti membaca novel epik yang penuh dengan drama, strategi, kejayaan, dan akhirnya keruntuhan. Dia mengajarkan kita tentang kompleksitas kekuasaan, pentingnya kepemimpinan yang visioner dan stabil, serta ketangguhan sebuah peradaban yang dibangun di atas fondasi budaya dan diplomasi yang kuat. Majapahit mungkin sudah lama runtuh, futliga.org tapi semangatnya—atau setidaknya, imajinasi kita tentang semangatnya—terus hidup sebagai salah satu fondasi identitas kebangsaan kita. Jadi, lain kali kamu mendengar nama Majapahit, ingatlah bahwa itu bukan sekadar cerita dongeng masa lalu, tapi sebuah bab penting yang membentuk wajah Nusantara, dengan segala keagungan dan kelemahannya yang sangat manusiawi.