Suara piano yang melankolis, vokal Harry Styles yang melengking penuh emosi, dan lirik yang terdengar seperti pesan perpisahan. "Sign of the Times", single debut solo Styles pasca-One Direction, langsung menjadi fenomena global saat dirilis pada 2017. Tapi, apa sebenarnya yang ingin disampaikan lagu ini? Banyak yang menduga ini cuma lagu cinta yang patah hati, namun jika kita menyelam lebih dalam, makna lagu "Sign of the Times" ternyata jauh lebih kompleks, gelap, dan sarat dengan interpretasi yang memicu perdebatan hangat di kalangan penggemar dan kritikus musik.
Dari Balik Layar Studio: Konteks Kelahiran Sebuah Lagu Epic
Sebelum mengupas liriknya, penting untuk memahami atmosfer saat lagu ini dibuat. Harry Styles baru saja keluar dari salah satu band terbesar di dunia. Ekspektasi publik sangat tinggi, dan tekanan untuk sukses sebagai artis solo begitu besar. Dalam beberapa wawancara, Styles sendiri memberikan petunjuk samar. Dia menyebut lagu ini sebagai "lagu untuk ibunya" dan berbicara tentang perspektif seorang ibu yang baru melahirkan. Ini adalah kunci pertama untuk membuka maknanya.
Gaya musiknya yang grand, mirip balada rock tahun 70-an ala David Bowie atau Queen, bukan pilihan tanpa alasan. Skala epik itu sengaja dipilih untuk membawa bobot emosional yang sangat besar—bobot yang lebih berat dari sekadar putus cinta.
Membongkar Lirik Baris per Baris: Sebuah Narasi yang Gelap
Mari kita ambil bait pembuka yang langsung powerful: "Just stop your crying, it's a sign of the times / We gotta get away from here." Kalimat ini langsung menciptakan suasana urgensi dan keputusasaan. Ini bukan ajakan untuk liburan, tapi sebuah perintah untuk menyelamatkan diri. Siapa yang berbicara? Dan dari apa kita harus "menjauh"?
Interpretasi paling kuat dan banyak dipegang adalah bahwa lagu ini bercerita dari sudut pandang seorang ibu yang baru melahirkan, tetapi bayinya dalam kondisi sekarat atau tidak akan bertahan lama. Ungkapan "sign of the times" bisa merujuk pada keadaan tragis yang, sayangnya, masih terjadi di zaman modern ini. Kalimat seperti "We never learn, we've been here before" menyiratkan siklus duka yang berulang, mungkin tentang kesedihan yang menjadi bagian tak terelakkan dari kehidupan manusia.
Interpretasi Lain: Alegori Sosial dan Politik?
Meski interpretasi tentang kelahiran dan kematian sangat kuat, beberapa analis melihat "Sign of the Times" sebagai alegori untuk kondisi dunia. Tahun 2017 adalah periode penuh gejolak politik dan sosial di banyak negara. Frase "we gotta get away from here" bisa jadi metafora untuk keinginan melarikan diri dari kekacauan zaman—perang, polarisasi politik, bencana iklim.
Lirik "The bullets, the bullets / We never learn, we've been here before" dengan jelas bisa dikaitkan dengan kekerasan senjata dan perang yang terus berulang sepanjang sejarah. Dalam pandangan ini, lagu ini adalah ratapan untuk kemanusiaan, sebuah refleksi pilu tentang kegagalan kita belajar dari kesalahan masa lalu.
Harry Styles Sendiri Bicara: Petunjuk yang Disengaja
Styles terkenal dengan pendekatannya yang misterius terhadap arti lagu, sering membiarkan pendengar mengambil interpretasi mereka sendiri. Namun, dalam percakapan dengan Rolling Stone, dia memberikan penjelasan yang memperkuat teori pertama: "Bagiku, 'Sign of the Times' datang dari sudut pandang seorang ibu yang baru melahirkan. Ibu itu tahu anaknya mungkin tidak akan bertahan lama, jadi dia berkata, 'Aku harus memberitahumu bahwa aku mencintaimu selagi masih ada waktu.' Ini adalah perpisahan yang dipaksakan. Apakah kamu ingin menghabiskan sisa waktu kita bersama dengan bahagia? Atau kamu akan berduka karena sesuatu yang bahkan belum terjadi?"
Pernyataan ini mengubah lagu dari sekadar lagu sedih menjadi sebuah dialog yang mengharukan tentang cinta, kehilangan, dan keberanian untuk memilih kebahagiaan di tengah kepastian yang pahit.
Kekuatan Musik yang Memperkuat Pesan
Makna lagu "Sign of the Times" tidak hanya terletak pada liriknya. Produksi musiknya adalah karakter utama. Lagu dimulai dengan piano sederhana, lalu secara bertahap membesar dengan masuknya drum, pafikotbintuni.org gitar, dan orkestra. Puncaknya ada pada solo gitar yang merintih dan vokal Styles yang mencapai klimaks tinggi. Perjalanan musik ini mencerminkan perjalanan emosional dalam lagu: dari penerimaan yang tenang, ke kesedihan yang meluap, hingga sebuah pelepasan yang hampir spiritual.
Struktur lagu yang panjang (hampir 6 menit) dan minim repetisi juga pilihan berani. Ini memaksa pendengar untuk benar-benar mengalami lagu, merasakan setiap fase emosinya, dan tenggelam dalam narasinya—sesuatu yang jarang di lagu pop mainstream.
Mengapa Lagu Ini Begitu Beresonansi dengan Banyak Orang?
Alasan "Sign of the Times" menjadi hits dan terus didengarkan hingga sekarang terletak pada ambiguitasnya yang cerdas. Setiap pendengar bisa memproyeksikan pergumulan mereka sendiri ke dalam lagu.
- Bagi yang pernah kehilangan: Lagu ini menjadi soundtrack untuk kesedihan mereka, sebuah pengakuan bahwa rasa sakit itu valid.
- Bagi yang merasa cemas dengan keadaan dunia: Lagu ini menjadi ekspresi dari ketakutan dan kelelahan mereka terhadap berita-berita buruk.
- Bagi yang sekadar mendengarkan: Mereka tetap bisa menikmatinya sebagai balada rock yang powerful dan indah secara musikal.
Lagu ini berhasil karena berbicara tentang pengalaman manusia yang universal: menghadapi akhir, baik akhir sebuah kehidupan, sebuah hubungan, atau sebuah era.
Kontroversi dan Salah Tafsir yang Umum
Tidak semua orang langsung menerima kedalaman lagu ini. Saat pertama dirilis, beberapa pendengar mengkritiknya sebagai "membosankan" atau "terlalu dramatis". Mereka mengharapkan lagu pop ceria ala One Direction dari Harry Styles. Ada juga yang salah tafsir, mengira ini adalah lagu cinta untuk mantan pacar, yang justru membuat maknanya menjadi jauh lebih dangkal.
Namun, justru "kejutan" inilah yang membuat debut solonya sukses. Styles menunjukkan bahwa dia adalah artis serius dengan visi yang matang, berani mengambil risiko dengan materi yang gelap dan kompleks. Kontroversi awal itu kemudian berubah menjadi kekaguman.
Warisan "Sign of the Times": Lebih dari Sekedar Hit Single
Lebih dari sekadar lagu hit, "Sign of the Times" berperan sebagai pernyataan artistik yang mendefinisikan ulang karir Harry Styles. Lagu ini membuka jalan bagi album pertamanya yang bernuansa rock klasik dan persona artistiknya yang sekarang dikenal chic dan androgini. Lagu ini membuktikan bahwa dia bisa berdiri sendiri, jauh dari bayang-bayang boybandnya dulu.
Dalam panggung budaya pop, lagu ini juga mengingatkan kita bahwa musik pop bisa jadi medium untuk cerita yang dalam dan menyentuh sisi manusiawi kita yang paling rapuh. Di tengas lagu-lagu tentang pesta dan cinta bahagia, "Sign of the Times" hadir sebagai sebuah momen reflektif yang menyegarkan.
Jadi, Apa Makna Akhirnya? Mungkin Semuanya Benar
Pada akhirnya, keindahan dari "Sign of the Times" terletak pada kemampuannya untuk menampung banyak kebenaran sekaligus. Apakah ini tentang seorang ibu yang kehilangan anak? Ya. Apakah ini tentang kecemasan terhadap dunia yang rusak? Juga ya. Apakah ini tentang perpisahan pribadi Harry dari masa lalunya? Bisa jadi.
Makna lagu "Sign of the Times" adalah sebuah kanvas luas. Setiap pendengar datang dengan cat warna pengalaman hidup mereka sendiri dan melukiskan pemahaman yang unik. Itulah kekuatan seni yang sejati—bukan memberikan satu jawaban pasti, tetapi mengajukan pertanyaan yang menggema di dalam diri kita masing-masing, mengundang kita untuk merasakan, merenung, dan terhubung dengan emosi yang paling mendasar. Dan dalam proses mencari makna itu, kita mungkin justru menemukan sesuatu tentang diri kita sendiri.